banner 728x250

SMAN 53 Jakarta Hadirkan Penyuluhan Antinarkoba Lewat Sulap di MPLS 2026

Ketua Dewan Penasehat DPP GPIB, Brigjen Pol (P) Dr. Victor Puadji, S.PB., FICS., DFM, memperagakan trik sulap edukatif di hadapan 250 peserta didik baru saat penyuluhan bahaya narkotika pada hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Aula SMAN 53 Jakarta, Rabu (15/7/2026). Metode interaktif ini sengaja dipilih pihak sekolah dan komite untuk membangun karakter antinarkoba pada siswa baru secara menyenangkan tanpa kesan menggurui.(Foto : Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta – Sebanyak 250 peserta didik baru SMAN 53 Jakarta mengikuti penyuluhan bahaya narkotika yang dikemas secara interaktif melalui pertunjukan sulap pada hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (15/7/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Brigjen Pol (P) Dr. Victor Puadji, S.PB., FICS., DFM, Ketua Dewan Penasehat DPP Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB), yang dikenal sebagai dokter sekaligus penyuluh anti narkoba dengan metode edukasi berbasis edutainment.

banner 325x300

Selama hampir dua jam, suasana aula dipenuhi antusiasme para siswa. Materi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba disampaikan melalui demonstrasi sulap yang dipadukan dengan pesan moral sehingga lebih mudah dipahami peserta.

“Anak-anak tidak merasa sedang digurui, tetapi mereka belajar memahami bagaimana narkoba dapat menghancurkan masa depan,” ujar Victor di sela kegiatan.

Kepala SMAN 53 Jakarta, Dra. Herawati Sihombing, M.Pd mengatakan materi bahaya narkoba sengaja ditempatkan sebagai salah satu agenda utama MPLS karena menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.

Menurut Herawati, masa peralihan dari SMP ke SMA merupakan fase yang rentan terhadap berbagai pengaruh negatif sehingga sekolah ingin memberikan pemahaman sejak awal.

“Hari ini merupakan bagian dari rangkaian MPLS dengan tema bahaya narkoba dan kenakalan remaja. Harapan kami sederhana, jangan pernah mencoba narkoba. Sekali mencoba, risikonya sangat besar terhadap masa depan mereka,” katanya.

Ia juga mengapresiasi metode penyampaian yang digunakan narasumber.

“Biasanya anak-anak sulit fokus jika hanya mendengar ceramah. Namun kali ini berbeda. Hampir dua jam berlangsung, mereka tetap antusias karena materi disampaikan melalui pendekatan sulap yang sangat menarik,” ujarnya.

Ketua Komite SMAN 53 Jakarta sekaligus Ketua Umum DPP Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB), Ir. Agung Karang, mengatakan pendidikan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.

Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci membangun generasi yang mampu menjauhi penyalahgunaan narkoba.

“Edukasi seperti ini menjadi investasi bagi masa depan anak-anak. Materi disampaikan dengan metode edutainment sehingga mereka menikmati proses belajar tanpa merasa digurui,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Komite SMAN 53 Jakarta, Tina Permatasari, menyampaikan dukungan penuh dari para orang tua terhadap program pendidikan karakter yang dijalankan sekolah.

“Kami percaya pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga membentuk karakter dan membekali anak menghadapi tantangan kehidupan. Program seperti penyuluhan bahaya narkoba sangat kami dukung karena manfaatnya nyata bagi masa depan anak-anak,” ujarnya.

MPLS SMAN 53 Jakarta Tahun Pelajaran 2026/2027 berlangsung pada 13 hingga 17 Juli 2026 setelah diawali Pra-MPLS pada 11 Juli 2026.

Selain penyuluhan bahaya narkoba, siswa baru juga memperoleh pembekalan mengenai budaya sekolah, wawasan kebangsaan, literasi digital, keamanan digital, kesehatan mental, pengenalan kurikulum, Profil Pelajar Pancasila, hingga pendidikan lingkungan.

Rangkaian MPLS dijadwalkan berakhir pada Jumat (17/7/2026). Sekitar 1.200 peserta yang terdiri dari siswa, guru, orang tua, dan komite sekolah diperkirakan menghadiri penutupan yang juga akan dimeriahkan penyanyi Shanna Shannon sebagai bintang tamu.

Ketua Komite SMAN 53 Jakarta sekaligus Ketua Umum DPP Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB), Ir. Agung Karang, mengatakan pendidikan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.

Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci membangun generasi yang mampu menjauhi penyalahgunaan narkoba.(fa/fz)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *