WASHINGTON – Senat Amerika Serikat menolak resolusi yang mendesak Presiden Donald Trump untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Pemungutan suara yang berlangsung pada Kamis, 24 September 2026 berakhir tipis dengan hasil 49 suara mendukung dan 50 suara menolak.
Sikap mayoritas Fraksi Partai Republik menjadi kunci penolakan resolusi tersebut. Walau demikian, empat senator Republik yakni Rand Paul, Susan Collins, Lisa Murkowski, dan Thom Tillis membelot dengan memberikan suara mendukung resolusi penghentian perang.
Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS telah meloloskan resolusi serupa pada Juli lalu dengan perolehan 214 suara berbanding 208. Sebagai resolusi bersama Kongres, dokumen ini pada dasarnya bersifat simbolis untuk menegaskan penolakan legislatif terhadap eskalasi militer, termasuk penggunaan pasukan darat.
Resolusi tersebut mewajibkan penarikan pasukan AS dari konflik Iran, kecuali jika Kongres secara resmi menyatakan perang atau memberikan kewenangan militer khusus.
Perdebatan politik di Washington ini terjadi di tengah melonjaknya harga bensin, solar, pupuk, dan bahan pangan di Amerika Serikat akibat konflik. Ketegangan di Selat Hormuz yang dipicu Iran juga terus mengganggu lalu lintas perdagangan energi dunia.
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya melanjutkan operasi militer. Ia bergeming bahwa langkah tegas tersebut mutlak diperlukan guna melumpuhkan ancaman militer Iran serta menggagalkan ambisi kepemilikan senjata nuklir negara tersebut.(fa/fza)


















