TEHERAN — Pemerintah Iran mengumumkan rencana pembentukan zona maritim “terbatas” baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan militer Iran akan menjatuhkan sanksi tegas kepada setiap kapal yang nekat memasuki kawasan tersebut.
Rezaei menjelaskan zona pembatasan baru ini membentang mulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat hingga meluas ke sejumlah titik strategis di wilayah Teluk.
Guna memperkuat kontrol navigasi, Iran dan Oman menjadwalkan penandatanganan kesepakatan koridor penerobosan baru melalui Selat Hormuz. Perjanjian ini menempatkan seluruh titik masuk dan keluar koridor di bawah kendali penuh militer Iran.
Rezaei membantah keras klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut jalur perairan strategis tersebut masih terbuka bebas. Ia mengarakterisasi pernyataan Washington sebagai “kebohongan besar” dan menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah memblokir total Selat Hormuz.
Sebelum konflik pecah, lebih dari 100 kapal dengan muatan melampaui 100 juta ton kargo melintasi Selat Hormuz setiap hari. Saat ini, Rezaei mencatat hanya ada sekitar tujuh hingga delapan kapal yang melintas, mayoritas mengangkut komoditas logistik penting milik Iran.
Eskalasi militer di kawasan memuncak sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Teheran merespons aksi tersebut dengan menembakkan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel serta basis militer AS di kawasan Teluk.
Meskipun Pakistan dan Qatar sempat memediasi nota kesepahaman penghentian permusuhan pada Juni lalu, Iran dan AS kini saling tuduh melanggar komitmen. Ketegangan militer pun terus memanas seiring pengetatan sanksi ekonomi dan pemblokiran jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.(fa/fza)


















