banner 728x250

Serangan Israel Terus Guncang Lebanon Selatan, OCHA Ungkap Krisis Kemanusiaan Memburuk dan Dana Bantuan Rp11,3 T Masih Minim

Angka-angka di atas kertas berita ini bukan sekadar statistik, melainkan nyawa, mimpi, dan keluarga yang terenggut secara paksa. Ketika hukum internasional tak lagi dihiraukan, warga sipil yang tak berdosa harus membayar harga termahal dari sebuah konflik. Sampai kapan nurani dunia bungkam melihat tumpukan duka yang tak kunjung usai?. (Foto : Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

Jenewa — Permusuhan antara Israel dan Hizbullah kembali berdampak terhadap warga sipil di Lebanon selatan. Konflik tersebut juga mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah tersebut, menurut badan kemanusiaan PBB pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Melansir dari Xinhua, sejumlah serangan udara dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Provinsi Nabatieh. Otoritas setempat melaporkan serangan tersebut pada Kamis, sementara serangan dan operasi penghancuran terus berlangsung setiap hari.

banner 325x300

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga dan infrastruktur sipil di wilayah terdampak. Situasi keamanan yang tidak stabil juga turut membahayakan petugas yang berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat.

Pada Rabu, 26 Agustus 2026, personel pertahanan sipil Lebanon dilaporkan diserang saat menangani kebakaran di wilayah Deir Mimas, Provinsi Nabatieh. Insiden tersebut membuat para petugas terpaksa menghentikan sementara upaya mereka.

Meski menghadapi berbagai ancaman, mitra kemanusiaan tetap memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 900.000 orang telah menerima bantuan tunai darurat sejak 2 Maret.

Setiap penerima telah memperoleh sedikitnya satu tahap bantuan tersebut. Bantuan tunai diberikan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar di tengah dampak konflik yang terus berlangsung.

OCHA mengatakan kebutuhan kemanusiaan di Lebanon masih sangat besar, namun dana yang tersedia belum mencukupi. OCHA telah mengajukan permohonan bantuan darurat selama enam bulan yang membutuhkan hampir 640 juta dolar AS (Rp11,3 triliun).

Dana tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat yang terdampak eskalasi konflik. Permohonan tersebut akan berakhir dalam empat hari, dan hingga kini, pendanaannya baru mencapai sedikit di atas setengah dari total kebutuhan.

Kekurangan dana dikhawatirkan dapat menyulitkan upaya memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak konflik. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi organisasi kemanusiaan yang masih berupaya memberikan bantuan di wilayah yang mengalami ketidakamanan.

OCHA menyerukan semua pihak menghormati hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil. Badan PBB tersebut juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap infrastruktur sipil dari dampak konflik.

OCHA menilai dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bantuan tersebut menjadi semakin penting selama permusuhan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan masih berlangsung.(fa/fza)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *